Minggu, 20 Oktober 2013

Lebah Buta




"Manis dan menyakitkan. Seperti mengambil madu di sarang lebah, tanpa pelindung apapun."
Ia memberikan sebuah senyuman, harapan, tangisan dan perasaan dengan sangat meyakinkan.  ia sama manis nya seperti madu. Tapi madu yang cepat menghilang. Ia pergi. Seperti tak ada urusan apa-apa lagi, seperti tak ada hal yang terjadi, dan seperti semua itu hanyalah sebuah ilusi.  Air mata nya tiba-tiba mengering, senyumnya pun kini telah berganti maknanya. ia melupakan harapan dan perasaan yang dibuatnya sendiri dengan cepat. Secepat serangan lebah buta yang menyakitkan.

Ia lebah buta yang tak tahu apa-apa. Ia Tidak bisa melihat apa yang  seharusnya bisa dia lihat. Lebah itu dibutakan oleh sebuah perasaan yang tak pernah terbalas.

Lebah buta itu tidak bersalah, dia hanya terjebak didalam kesepian hatinya saja, Ia sangat menyayangi Pohon yang rindang disana, tapi pohon yang rindang itu hanya bisa membalasnya tanpa kata, dan tanpa perhatian. Lebah buta hanya bisa sabar dalam menghadapi si Pohon Rindang itu. Ia selalu menanti saat-saat dirinya dan Pohon rindang itu bisa bersama.  

Lebah buta. Ia hanya ingin tahu seperti apa cinta sejati itu. Tapi pohon rindang disana tidak pernah peka terhadap apa yang dirasakan si lebah buta ini. Lebah buta hanya bisa berusaha memahami si pohon yang rindang itu dengan senyum yang tulus, dan tangisan kecilnya.

Aku melihatnya. Aku berusaha memahaminya. Aku tidak tahu seperti apa cinta sejati itu, tapi aku ingin sekali menghapus air matanya. Dan aku tau, itu semua adalah awal saat aku mulai menyukai si lebah buta itu.
**********************************************************************************
Seperti sebuah mimpi yang tersesat didalam kenyataan. Lebah buta itu mulai mengenaliku. Tanpa waktu lama, aku dan si lebah buta itu menjadi sangat akrab. Dia sangat senang bercerita dan aku disampingnya berusaha untuk mendengarkan setiap ceritanya. Dia sangat senang bermain, dan aku selalu berusaha untuk menemaninya. Aku melihat lebah buta itu tersenyum lepas, aku melihat sebuah perasaan yang  tulus pada dirinya. Aku berfikir bahwa lebah buta itu mulai melupakan si pohon yang rindang disana…

 Harapan yang awalnya samar itu kini bisa terlihat dengan jelas. Terlihat dengan jelas bahwa harapan ku untuk berada disampingnya memang tidak akan pernah terjadi. Lebah buta itu hanya akan memilih pohon rindang yang berada disana. Dia tak akan pernah memilih sebuah bayangan sepertiku.. Bayangan yang tak pernah bisa menyatu dengan apapun.

Kini si lebah buta pergi ke tempat pohon rindang itu berada. Ia hanya akan setia dengan pohon rindang itu. Ia mulai menemukan apa arti cinta sejati sebenarnya. Menunggu,dan menanti pohon rindang itu berbicara adalah cinta sejati yang lebah buta yakini. Meskipun ia harus menunggunya hingga akhir waktu, hingga cahaya cintanya terang benderang dikenang waktu.
**********************************************************************************
Lalu bagaimana denganku ?
Tenang saja. Aku hanya sebuah bayangan. Dan bayangan pasti akan menghilang disaat cahaya datang. ;)

Minggu, 06 Mei 2012

Cryng in the Dream


“Resa, kamu dimana ? cepet kesini kebelakang aula sekolah, kita butuh kamu.”
Itulah pesan yang kuterima dari Irma ketika jam istirahat sedang berlangsung. Tanpa pikir panjang, dari kantin secepat mungkin aku berlari menuju kebelakang aula sekolah karna takut terjadi apa-apa disana. Ternyata, sesampainya disana kudapati Irma dan Syifa yang sedang tertunduk menangis. Aku lalu duduk didepan mereka, dan bertanya kepada mereka.
“Kenapa pada nangis begini ?”
Namun mereka berdua tidak menjawab sepatah katapun.
“Udahlah masalah yang tadi dikelas jangan terlalu ditangisi.” Aku mencoba menenangkan mereka.
“Tapi aku malu, aku pasti bakalan di cap sebagai tukang nyontek nanti dikelas.” Jawab Syifa.
“Iya aku juga.” Tambah Irma. Lalu aku menjawab
“Setidaknya kalian telah berani mengakui kesalahan yang kalian perbuat itu ke Bu Guru, itu sudah menjadi nilai tambah tersendiri bagi kalian.Daripada sembunyi tangan tak pernah mengakui suatu kesalahan, itu justru akan merugikan diri sendiri.”
Mereka terdiam kembali. Di kedua wajahnya tergambar begitu jelas penyesalan dan keputus asaan yang dihiasi dengan alur air mata bening dan pedih. Tidak tahu apa yang harus kuperbuat sekarang, tapi melihat keduanya menangis dan sedih seperti itu, aku merasa tidak berguna juga bila hanya bisa memperhatikan mereka tanpa memberi sebuah solusi.
Akhirnya kuambil  sebuah ranting yang ada disampingku, dan kupatahkan ranting tersebut sehingga menjadi dua bagian. Lalu kusimpan yang satu didepan Irma dan yang satu lagi didepannya Syifa.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Irma.
“Tidak ada.” Kata ku.
“Gak ada kerjaan banget.” Sahut Syifa.
“Biarin, daripada kalian menangisi hal yang sudah berlalu, itu lebih gak ada kerjaan :P .” Sindir aku kepada mereka.
“Huuu dasaar.” Jawab mereka bersama.
“Hehehe tuhkan berhenti juga nangisnya.”
Suasana pun kembali tenang, dan disaat itu Mereka berdua curhat kepadaku.
“Res, kenapa ya aku gak pernah  ngerti-ngerti sama pelajaran kimia, meski udah belajar mati-matian tetap aja gak masuk-masuk ke otaknya.” Curhat Irma kepadaku. Syifa pun melanjutkan.
“Iya aku juga sama kayak gitu udah mati-matian belajar, terus disaat pelajaran berlangsung, akuberusaha fokus sama apa yang diajarkan Bu Guru, tapi tetap  aja gak paham-paham.”
Irma berkata lagi.
“Aku gak pengen ngecewain orang tuaku Res, aku pengen bisa ngerti pelajaran kimia supaya aku gak perlu nyontek-nyontek segala. Aku pengen mengejar mimpi-mimpi aku di waktu aku masih kecil, aku pengen jadi kebanggaan mereka, kebanggaan orangtuaku.”
Syifa menambahkan.
“Tapi aku gak bisa apa-apa, aku cuma bisa bermimpi tanpa mampu untuk meraih mimpi itu, tapi aku ingin sekali mengejar mimpiku itu.”
Mereka berdua kembali menangis sambil berpelukan. Sebuah suasana yang benar-benar membuatku terharu, dimana dua orang pelajar SMA ingin berusaha mencari celah masa depannya, dan mereka terhenti hanya karena sebuah ketidak mampuan. Tapi bagiku mereka itu bukan ‘tidak mampu’ namun mungkin ‘belum mampu’, sehingga itu artinya mereka masih belum terlambat untuk dapat mengerti. Mengerti tentang segala hal yang mereka pikir adalah suatu hal yang rumit dan tak akan pernah mereka mampu lakukan.
“Hey, hey udahlah, masakalian kalah, masa kalian nangis hanya gara-gara pelajaran kimia?” Aku mencoba menhibur.
“Bukan hanya sekedar pelajaran kimia, ini tentang masa depan kita nanti. Dari kegagalan ini pasti akan berdampak untuk masa depan nanti. Aku takut gagal, aku takut tidak naik kelas, aku takut tidak lulus ujian nasional.” Jawab Syifa.
“Hahaha, berani sukses maka harus berani juga untuk gagal. Itukan yang selalu orang sukses katakan, jangan pernah ingin hidup kalian di kuasai oleh ketakutan. Rasa takut itu cukup satu saja untuk sang pencipta alam ini. Guru biologi kita juga pernah berkata kan, ‘Hidup itu harus santai, masa depan memang harus ditentukan, tapi jangan dijadikan sebuah beban, karna nanti akan merusak livermu.’ Dan kalian tahu, beliau berkata seperti itu dengan gayanya yang khas, agar murid-murid yang menyimaknya tersenyum, tertawa dan bahagia, karena memang itu tujuannya yaitu menjadikan murid-muridnya jauh dari keputus asaan !.” Tegasku kepada mereka.
“Tapi apa yang kubisa, kimia aku gak paham, apalagi yang lainnya. Yang kubisa hanyalah bermain-main, aku memang gak pernah berguna.” Sesal Irma kepadaku.
“Sudah, sudah jangan menangis lagi, tetaplah berusaha jangan menyerah dan bersabarlah, aku yakin kalian pasti mampu, lagian kalian itu sudah punya niat yang baik untuk dapat berubah. Guru PKn kita juga pernah berkata ‘ Sesuatu itu bisa saja berubah’. Dan kalian sekarang sudah dapat membuktikannya dengan sebuah niat, itu sangatlah hebat loh. Terus kata siapa kalian gak berguna, buktinya Irma kamu itu hebat dalam menangani kasus-kasus  pelajar yang lagi patah hati, tiap orang yang udah konsultasi ke kamu mereka gak pernah sedih lagi tuh. Kali aja suatu saat nanti kamu bakalan punya  acara TV sendiri kayak OPRAH yang suka ngasih motivasi-motivasi gitu deh pokonya.”
“Hmm, kalau tidak salah kamu juga salah satu pasien aku kan, waktu itu kamu pernah nembak cewek tapi ditolak, terus kamu tuh curhat ke aku, terus …”
“SSssttt,, udah, udah ah Irma itukan masa lalu hahaha.”
“Kalau aku apa yang aku bias L?” Tanya Syifa.
“Oh iya kamu Syifa, kamu itu orangnya ceria, dan ketawamu itu mampu membuat orang-orang disekitarmu terbawa gembira juga. Aku pikir suatu saat nanti kamu bakalan jadi Duta PBB yang tugasnya cuma tinggal tertawa menghibur orang-orang yang terkena bencana. Keren banget tuh bisa ngurangin penderitaannya.”  Jawabku.

“Apa? Cuma tertawa aja? Kayak orang gila, tapi keren juga tuh hehe.” Jawab Syifa.
“Nah makanya jangan putus asa dulu, kalau urusan pelajaran kimia tenang aja nanti kita belajar bareng-bareng, jangan dibikin pusing.” Kataku pada mereka.
“Hmm,  iya, aku gak bakalan putus asa lagi kok, ternyata diluar sana masih ada yang butuh keceriaanku. Hahaha, eh Irma awas loh nanti undang aku kalau kamu udah punya acara TV sendiri.”
“Hehehe iya, iya Syifa, nanti pas Episode ‘orang-orang dengan senyumannya yang mampu mengubah dunia’ kamu pasti bakalan aku undang J .” Jawab Irma.
“Haaaah Irmaaa T.T ”
“Syiifaa T.T ”
Mereka akhirnya berpelukan kembali, dan terlihat dari kedua mata mereka air mata kembali membasahi pipi-pipinya. Tangisan yang penuh dengan ekspresi kebahagiaan diantara mereka. Dan senyuman keduanya kini menyempurnakan sebuah kenangan untuk di hari  yang akan datang nanti.
“Ayo ah kekelas, bentar lagi bel masuk, terus sekalian kita bahas lagi soal-soal ulangan yang tadi pagi.” Ajakaku pada mereka.
“Bentar dulu Res.” Kata Irma.
Syifa dan Irma kemudian  menambil ranting yang tadi telah aku patahkan, lalu keduanya menuliskan nama mereka di sebuah tanah yang ada di samping aula dengan menggunakan ranting tersebut.
“Res, ayo kamu juga tulisin nama kamu disini.” Ajak Syifa dan Irma.
“Hahaha iya,iya”
Aku lalu menuliskan namaku ditanah tersebut dengan ranting yang sebelumnya mungkin mereka anggap tidak pernah ada gunanya begitupun bagiku. Namun sekarang semuanya telah tersadar bahwa setiap hal itu pasti berguna, bahkan sebuah ranting kering dan tua pun ternyata ada kegunaannya juga. Irma dan Syifa, mereka telah melakukan sesuatu yang besar dari sebuah kegagalan. Karena mereka berdua telah berhasil mengalahkan keputus asaannya sendiri dalam menghadapi masa depan yang akan datang.
Dan disana, ditempat itu kini telah terukir dengan jelas sebuah cerita persahabatan yang  tak akan pernah terlupakan. Meski aku dan mereka suatu saat nanti terpisah dari sekolah ini, tapi cerita itu akan tetap terkenang  di dalam sebuah garis kehidupan.

Jumat, 21 Oktober 2011

Jaga Sikap

Ini adalah pengalaman saya baru-baru ini mengenai arti jaga sikap bagi diri saya sendiri terhadap orang lain..

Saat itu saya sedang mengerjakan tugas Fisika, secara mendetail saya pelajari semua yg telah guru saya ajarkan, kemudian seorang perempuan menghampiri saya. Ternyata dia adalah teman saya yang bernama %#$.

Dia bertanya kepada saya mengenai pelajaran Fisika tersebut, lalu saya jelaskan kepadanya, sejenak dia benar-benar memperhatikan apa yang saya jelaskan, namun kemudian dia malah asik sendiri dengan hp nya, sehingga saya seperti orang gila yang berbicara sendiri.

hmm,,Ok setelah itu saya diam dan melanjutkan belajar lagi, tetapi beberapa saat dia kembali bertanya lagi, kemudian seperti biasa saya ladenin dia dengan menjelaskan materi tersebut, namun dia berubah expresi seperti orang yang males belajar begitu.

Setelah itu saya mulai ambil jaga sikap terhadapnya, tapi entah kenapa dia malah menyangka bahwa saya ini marah hanya gara-gara saya cuek kepadanya. Padahal saya sebenarnya hanya berusaha tidak mengganggu dia. Akan tetapi akhirnya dia yang menjadi marah balik.

Satu saat, pas ketika ada sebuah tes ulangan, saya hendak meminta sebuah kertas kepada teman saya karena ketika itu saya tidak membawa buku dan tas, tiba-tiba dia menyodorkan sebuah kertas kepada saya, tapi saya terlalu malu untuk mengambilnya. Akhirnya saya mengembalikan kertas itu dan berpura-pura telah memiliki kertas ke dia, padahal sebenarnya belum punya. Dan akhirnya saya meminta kertas kepada teman saya yang duduk di sebelah saya. Hal itu ternyata diketahui oleh dia, sehingga ketahuanlah bahwa saya ini memang sangat berubah kepadanya. Hingga akhirnya sampai saat ini dan detik ini dia menjadi cuek dan menjadi biasa-biasa saja kepada saya.


Dan inilah akhir sebuah jaga sikap yang saya lakukan terhadapnya berujung jaga sikap dia juga terhadap saya.

Selasa, 18 Oktober 2011

Batik Pekalongan

Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.

Museum batik Pekalongan
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik.

Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Adapun motifnya antara lain batik Jlamprang diilhami dari Negeri India dan Arab, batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina, batik Pagi Sore oleh Belanda, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.


Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.

Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.

Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia, diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus batik Pekalongan.

Sejarah Batik Indonesia

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.