Minggu, 06 Mei 2012

Cryng in the Dream


“Resa, kamu dimana ? cepet kesini kebelakang aula sekolah, kita butuh kamu.”
Itulah pesan yang kuterima dari Irma ketika jam istirahat sedang berlangsung. Tanpa pikir panjang, dari kantin secepat mungkin aku berlari menuju kebelakang aula sekolah karna takut terjadi apa-apa disana. Ternyata, sesampainya disana kudapati Irma dan Syifa yang sedang tertunduk menangis. Aku lalu duduk didepan mereka, dan bertanya kepada mereka.
“Kenapa pada nangis begini ?”
Namun mereka berdua tidak menjawab sepatah katapun.
“Udahlah masalah yang tadi dikelas jangan terlalu ditangisi.” Aku mencoba menenangkan mereka.
“Tapi aku malu, aku pasti bakalan di cap sebagai tukang nyontek nanti dikelas.” Jawab Syifa.
“Iya aku juga.” Tambah Irma. Lalu aku menjawab
“Setidaknya kalian telah berani mengakui kesalahan yang kalian perbuat itu ke Bu Guru, itu sudah menjadi nilai tambah tersendiri bagi kalian.Daripada sembunyi tangan tak pernah mengakui suatu kesalahan, itu justru akan merugikan diri sendiri.”
Mereka terdiam kembali. Di kedua wajahnya tergambar begitu jelas penyesalan dan keputus asaan yang dihiasi dengan alur air mata bening dan pedih. Tidak tahu apa yang harus kuperbuat sekarang, tapi melihat keduanya menangis dan sedih seperti itu, aku merasa tidak berguna juga bila hanya bisa memperhatikan mereka tanpa memberi sebuah solusi.
Akhirnya kuambil  sebuah ranting yang ada disampingku, dan kupatahkan ranting tersebut sehingga menjadi dua bagian. Lalu kusimpan yang satu didepan Irma dan yang satu lagi didepannya Syifa.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Irma.
“Tidak ada.” Kata ku.
“Gak ada kerjaan banget.” Sahut Syifa.
“Biarin, daripada kalian menangisi hal yang sudah berlalu, itu lebih gak ada kerjaan :P .” Sindir aku kepada mereka.
“Huuu dasaar.” Jawab mereka bersama.
“Hehehe tuhkan berhenti juga nangisnya.”
Suasana pun kembali tenang, dan disaat itu Mereka berdua curhat kepadaku.
“Res, kenapa ya aku gak pernah  ngerti-ngerti sama pelajaran kimia, meski udah belajar mati-matian tetap aja gak masuk-masuk ke otaknya.” Curhat Irma kepadaku. Syifa pun melanjutkan.
“Iya aku juga sama kayak gitu udah mati-matian belajar, terus disaat pelajaran berlangsung, akuberusaha fokus sama apa yang diajarkan Bu Guru, tapi tetap  aja gak paham-paham.”
Irma berkata lagi.
“Aku gak pengen ngecewain orang tuaku Res, aku pengen bisa ngerti pelajaran kimia supaya aku gak perlu nyontek-nyontek segala. Aku pengen mengejar mimpi-mimpi aku di waktu aku masih kecil, aku pengen jadi kebanggaan mereka, kebanggaan orangtuaku.”
Syifa menambahkan.
“Tapi aku gak bisa apa-apa, aku cuma bisa bermimpi tanpa mampu untuk meraih mimpi itu, tapi aku ingin sekali mengejar mimpiku itu.”
Mereka berdua kembali menangis sambil berpelukan. Sebuah suasana yang benar-benar membuatku terharu, dimana dua orang pelajar SMA ingin berusaha mencari celah masa depannya, dan mereka terhenti hanya karena sebuah ketidak mampuan. Tapi bagiku mereka itu bukan ‘tidak mampu’ namun mungkin ‘belum mampu’, sehingga itu artinya mereka masih belum terlambat untuk dapat mengerti. Mengerti tentang segala hal yang mereka pikir adalah suatu hal yang rumit dan tak akan pernah mereka mampu lakukan.
“Hey, hey udahlah, masakalian kalah, masa kalian nangis hanya gara-gara pelajaran kimia?” Aku mencoba menhibur.
“Bukan hanya sekedar pelajaran kimia, ini tentang masa depan kita nanti. Dari kegagalan ini pasti akan berdampak untuk masa depan nanti. Aku takut gagal, aku takut tidak naik kelas, aku takut tidak lulus ujian nasional.” Jawab Syifa.
“Hahaha, berani sukses maka harus berani juga untuk gagal. Itukan yang selalu orang sukses katakan, jangan pernah ingin hidup kalian di kuasai oleh ketakutan. Rasa takut itu cukup satu saja untuk sang pencipta alam ini. Guru biologi kita juga pernah berkata kan, ‘Hidup itu harus santai, masa depan memang harus ditentukan, tapi jangan dijadikan sebuah beban, karna nanti akan merusak livermu.’ Dan kalian tahu, beliau berkata seperti itu dengan gayanya yang khas, agar murid-murid yang menyimaknya tersenyum, tertawa dan bahagia, karena memang itu tujuannya yaitu menjadikan murid-muridnya jauh dari keputus asaan !.” Tegasku kepada mereka.
“Tapi apa yang kubisa, kimia aku gak paham, apalagi yang lainnya. Yang kubisa hanyalah bermain-main, aku memang gak pernah berguna.” Sesal Irma kepadaku.
“Sudah, sudah jangan menangis lagi, tetaplah berusaha jangan menyerah dan bersabarlah, aku yakin kalian pasti mampu, lagian kalian itu sudah punya niat yang baik untuk dapat berubah. Guru PKn kita juga pernah berkata ‘ Sesuatu itu bisa saja berubah’. Dan kalian sekarang sudah dapat membuktikannya dengan sebuah niat, itu sangatlah hebat loh. Terus kata siapa kalian gak berguna, buktinya Irma kamu itu hebat dalam menangani kasus-kasus  pelajar yang lagi patah hati, tiap orang yang udah konsultasi ke kamu mereka gak pernah sedih lagi tuh. Kali aja suatu saat nanti kamu bakalan punya  acara TV sendiri kayak OPRAH yang suka ngasih motivasi-motivasi gitu deh pokonya.”
“Hmm, kalau tidak salah kamu juga salah satu pasien aku kan, waktu itu kamu pernah nembak cewek tapi ditolak, terus kamu tuh curhat ke aku, terus …”
“SSssttt,, udah, udah ah Irma itukan masa lalu hahaha.”
“Kalau aku apa yang aku bias L?” Tanya Syifa.
“Oh iya kamu Syifa, kamu itu orangnya ceria, dan ketawamu itu mampu membuat orang-orang disekitarmu terbawa gembira juga. Aku pikir suatu saat nanti kamu bakalan jadi Duta PBB yang tugasnya cuma tinggal tertawa menghibur orang-orang yang terkena bencana. Keren banget tuh bisa ngurangin penderitaannya.”  Jawabku.

“Apa? Cuma tertawa aja? Kayak orang gila, tapi keren juga tuh hehe.” Jawab Syifa.
“Nah makanya jangan putus asa dulu, kalau urusan pelajaran kimia tenang aja nanti kita belajar bareng-bareng, jangan dibikin pusing.” Kataku pada mereka.
“Hmm,  iya, aku gak bakalan putus asa lagi kok, ternyata diluar sana masih ada yang butuh keceriaanku. Hahaha, eh Irma awas loh nanti undang aku kalau kamu udah punya acara TV sendiri.”
“Hehehe iya, iya Syifa, nanti pas Episode ‘orang-orang dengan senyumannya yang mampu mengubah dunia’ kamu pasti bakalan aku undang J .” Jawab Irma.
“Haaaah Irmaaa T.T ”
“Syiifaa T.T ”
Mereka akhirnya berpelukan kembali, dan terlihat dari kedua mata mereka air mata kembali membasahi pipi-pipinya. Tangisan yang penuh dengan ekspresi kebahagiaan diantara mereka. Dan senyuman keduanya kini menyempurnakan sebuah kenangan untuk di hari  yang akan datang nanti.
“Ayo ah kekelas, bentar lagi bel masuk, terus sekalian kita bahas lagi soal-soal ulangan yang tadi pagi.” Ajakaku pada mereka.
“Bentar dulu Res.” Kata Irma.
Syifa dan Irma kemudian  menambil ranting yang tadi telah aku patahkan, lalu keduanya menuliskan nama mereka di sebuah tanah yang ada di samping aula dengan menggunakan ranting tersebut.
“Res, ayo kamu juga tulisin nama kamu disini.” Ajak Syifa dan Irma.
“Hahaha iya,iya”
Aku lalu menuliskan namaku ditanah tersebut dengan ranting yang sebelumnya mungkin mereka anggap tidak pernah ada gunanya begitupun bagiku. Namun sekarang semuanya telah tersadar bahwa setiap hal itu pasti berguna, bahkan sebuah ranting kering dan tua pun ternyata ada kegunaannya juga. Irma dan Syifa, mereka telah melakukan sesuatu yang besar dari sebuah kegagalan. Karena mereka berdua telah berhasil mengalahkan keputus asaannya sendiri dalam menghadapi masa depan yang akan datang.
Dan disana, ditempat itu kini telah terukir dengan jelas sebuah cerita persahabatan yang  tak akan pernah terlupakan. Meski aku dan mereka suatu saat nanti terpisah dari sekolah ini, tapi cerita itu akan tetap terkenang  di dalam sebuah garis kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar